Kejari Karimun “Diduga Keras Endapkan Kasus Korupsi", Menpan RB Perintahkan Pejabat dan PNS Berijazah Palsu Dicopot, SI JAGO MERAH MENGAMUK DI BAPPEDA KARIMUN, Tekad PKS Akan Menangkan Rafiq Jadi Bupati Karimun Periode 2015-2020, Pemerintah Menetapkan Gaji Pensiunan PNS Terendah Rp. 1.486.500,-, Hussein: "Kami Tak Meminta Apapun,Hanya Kedamaian Beribadah", Kajari Karimun, Rudi Margono SH. Diminta Tuntaskan Kasus Korupsi Yang Diendapkan Supratman Khalik SH.,

Tuesday, March 28, 2017

MENYIKAPI BERITA YANG BENAR ADALAH HAQ DAN BUKAN SEBALIKNYA (BERITA) HOAX


Ditulis oleh :
Agung Puspito, Jurnalis Muslim
Jakarta KNs-com.
Suatu berita, adalah megandung unsyur kebenaran terutama yang disampaikan oleh para nabi dan rasul, maupun perawi hadist, serta para dai dan mubaligh, dalam hal urusan kemaslahatan dunia, dan  kehidupan diakhirat kelak nanti.

Kiranya berbicara tentang kebenaran sebagaimana diuraikan diatas dimukadima tulisan ini, juga termasuk rekan-rekan media/wartawan yang menyapaikan sesuatu berita yang benar baik melalui media cetak maupun electronic untuk menyaampaikan berita benar atas suatu peristiwa atau kejadian jangan ditutup-tutupi sehingga tidak menimbulkan kesan sebagai berita hoax).

Penulis mengangkat tema ini, khususnya bagi umat yang beragama Islam, dengan merujuk pada sebuah hadist nabi Muhammad SAW  yang mengisahkan tentang berita benar, yang artinya “Hai orang-orang beriman. Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, telitilah kebenarannya (tabayyan) agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, yang akhirnya membuatmu menjadi susah dan akan menyesali akan semua yang terjadi.
 
Bahwa orang fasik adalah orang yang secara terang-terangan melanggar hukum Allah, padahal ia tahu dan sadar akan kebenaran hukum tersebut. Bagi orang yang fusuq (melanggar) ini, perlu diwaspadai sewaktu ia mengabarkan sesuatu karena hukum Allah saja ia langgar apalagi terhadap hukum hasil konsensi manusia.

Orang fasik adalah yang kesaksiannya tak bisa diterima. Ia boleh diduga punya kepentingan lain dalam menyampaikan sesuatu (berita hoax) dengan menyebar kebohongan, memfitnah, dan/atau  mengadu domba antar masyarakat.

Tabayyun adalah mekanisme “cek dan ricek” atau memeriksa kebenaran suatu berita dengan teliti. Itu mekanisme pembuktian berupa konfirmasi atau verifikasi. Ada metode popular di kalangan wartawan yang bisa digunakan para komunikan (penerima komunikasi) untuk memeriksa validitas berita, yaitu mekanisme 5W + 1H (what, who, where, when, why + how).

Periksalah apakah suatu berita atau sebuah gambar dapat dipertanggungjawabkan penyampaiannya: siapa saja sumber beritanya, kapan peristiwa itu terjadi dst ; dan apabila menyangkut gambar atau imaji, apakah ia mencantumkan siapa fotografernya dan narasumber mana yang menjadi rujukannya.

Sebagaimana seorang ilmuwan dan penegak hukum yang membongkar suatu kasus, tentunya ia bermula dari informasi masyarakat selaku sumber informasi tetapi dalam konteks hukum dia tetap melindungi sumber informasi tersebut, selanjutnya apabila telah ada terduga, maka pejabat dari instansi terkait akan memasuki tahap penyelidikan dan penyidikan dan apabila telah mendapatkan bukti yang valid untuk menetapkan status seseorang menjadi tersangka, terdakwa dan terpidana.

Demikian juga dengan seorang jurnalis tapi maaf, ini bukan menggurui. Bahwa wartawan setelah mengumpulkan informasi secara akaurat dan obyektif untuk kemudian disiarkan melalui media cetak maupun elektronik yang dapat dipertanggung jawabkan keakuratan berita tersebut.

Jika dalam sains obyektivitas berjarak dengan manusia dan manusia mendekatkannya dengan penelitian dan teknologi (seperti mikroskop atau teleskop), dalam jurnalisme obyektivitas itu juga disertai teknologi perekam sebagai perpanjangan indera manusia.

Semakin canggih suatu teknologi (misalnya kamera atau alat perekam lainnya) semakin sahih informasi yang didapat untuk kemudian dirangkai menjadi suatu fakta berita).

Data-data yang ditangkap menggunakan teknologi itu merepresentasikan kejujuran sang jurnalis ketika ia menyampaikan apa adanya sebagaimana ditangkap piranti perekamnya. Seperti contoh dijaman teknologi sekarang ini. suatu kasus yang terekam Closed Circuil Televisi (CCTV). Memang, tidak semua data 5W 1H disertakan dalam sebuah karya jurnalistik. Tapi, sang jurnalis sebagai seorang komunikator akan memiliki catatan (record) mengenai mekanisme pengumpulan berita dan siap mempertanggungjawabkannya kepada publik.

Bentuk pertanggungjawaban bisa diminta melalui hak jawab di media tempat sang jurnalis bekerja dan/atau melalui proses pengadilan. Hal tersebut menunujukan bahwa Negara kita (NKRI) adalah Negara berdasarkan hukum maka tidak ada rakyat negeri ini yang kebal hukum, artinya yang salah tetap diproses sesuai hukum yang berlaku dan halnya perlu dilakukan dalam rangka untuk pegakan supremasi hukum terutama diera kepemimpinan Presiden RI Joko Widoodo dan Wakilnya Jusuf Kalla. (Karimun News.com ) ***

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...